Pemikiran Industri Indonesia.
Sejarah bangsa-bangsa, menggambarkan perjalanan industrinya selalu dimulai dengan 'resource based', disusul 'manufactur based', kemudian 'service based' dan masih dalam tataran teori 'creativity based'.
Yang terakhir saya menyebutkannya masih dalam tataran teori, karena yang ditunjukkan sebagai creativity-based-industry itu pada hakekatnya sebuah manufactur atau services industries.
Dimana Indonesia. Dalam perjalanan sejarah industri Indonesia, sepertinya kita berhenti atau belum beranjak dari resouce-based, inipun karena Asing meletakkan dasar-dasarnya hingga tahun 1945. Oleh nasionalisasi yang tak mulus dan kecerdasan bangsa yang belum mencukupi, serta ketiadaan politik-industrialisasi yang visoner dari negara, hingga kini Indonesia belum beranjak dari level 'resource-based' tersebut.
Dengan melihat daftar orang terkaya di Indonesia, tak satupun dari 10 besar orang terkaya ini dari manufactur-industries. Hal ini menguatkan bahwa Indonesia memang masih mengandalkan 'sumber daya alam', yang tentu sulit terbarukan.
Daftar 10 orang terkaya di Indonesia, 2010
1. R. Budi & Michael Hartono US$ 7 miliar
2. Martua Sitorus US$ 3 miliar
3. Susilo Wonowidjojo US$ 2,6 miliar
4. Aburizal Bakrie US$ 2,5 miliar
5. Eka Tjipta Widjaja U$S 2,4 miliar
6. Peter Sondakh US$ 2,1 miliar
7. Putera Sampoerna US$ 2 miliar
8. Sukanto Tanoto US$ 1,9 miliar
9. Anthoni Salim US$ 1,4 miliar
10. Soegiharto Sosrodjojo US$ 1,2 miliar
Implikasi dari fenomena industri seperti diatas, mind-set manufactur-industries dan bahkan 'services-based-industries' masih minim dimiliki oleh investor maupun tenaga profesional. Contoh, dalam industri-jasa yang ditransaksikan bukan lagi 'benda'- fisik, lebih sudah mengarah pada 'benda'-psikis yang bernama 'kepuasan-kepercayaan-dan kebanggaan' (3K).
Dengan istilah lain, baik konsumen di Indonesia ataupun diluar sana, telah muncul sebuah kebutuhan akan 'kepuasan-kepercayaan dan kebanggaan' dari apapun yang ditransaksikan.
Oleh karena itu, orientasi pada '3K' tersebut, pada industri-apapun, akan menjamin keuntungan yang berkelanjutan, karena '3K' ini menjadi kebutuhan meta-fisik yang akan terus meningkat dimasa depan.
.
membincangkan hal-hal yang sedang 'trending'.....di akar-masalah-nya, dalam perspektif berbeda.
Tuesday, June 15, 2010
Monday, June 14, 2010
Bantuan Mengembangkan Merek Dagang
Usaha Kecil Menengah (UKM) telah secara nyata tangguh dalam menghadapi krisis ekonomi di Indonesia.
Perkembangan ekonomi disuatu daerah akan menambah jumlah usahawan dengan format UKM.
Persaingan usaha sejenis dengan sedirinya meningkat selaras dengan pertumbuhan jumlah usahawan di suatu wilayah tertentu.
Pada perusahaan besar, demi memenangkan persaingan sering menggunakan strategi "memperbesar" barrier-to-entry, dalam bentuk kompetensi-teknologi-SDM-terutama modal finansial.
UKM, tentu saja kurang memiliki 'modal finansial' yang berlimpah, oleh karena itu sangat mustahil menerapkan strategi bersaing dengan meningkatkan "barrier-to-entry" tersebut diatas. Oleh karena itu diperlukan 'upaya lain' guna memenangi persaingan.
Apapun upaya itu, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun dengan 'ketrampilan' penggunaan dana yang mencukupi, dana tersebut dapat berfungsi sebagai 'investasi' dengan 'pengembalian' yang 'nyata' dan 'mencukupi'.
Merek-dagang, sebuah komponen persaingan usaha yang relatif baru disadari oleh banyak perusahaan di dunia termasuk di Indonesia. Padahal, hanya melalui "merek-dagang" inilah, perusahaan dapat membedakan 'usaha'nya dari usaha-pesaingnya. Mengapa?
Kemajuan teknologi (informasi) yang menyebabkan demikian cepatnya pesaing membuat produk/jasa sejenis dari sebuah perusahaan, juga teknologi pemasarannya, bahkan metode pengelolaan asset (modal).
Posisi 'merek-dagang' dalam benak 'masyarakat', jika dikelola dengan baik akan sangat sulit untuk perusahaan pesaing untuk menyamai, paling cepat adalah memerlukan waktu pemosisian yang sama dengan waktu yang diperlukan perusahaan dalam membangun mereknya itu.
Masalahnya, perusahaan yang akan disaingi tersebut tentu tidak akan berhenti dalam mengelola mereknya tersebut, sehingga logis jika perusahaan terus menerus mengelola mereknya, sulit kepemimpinannya dipasar akan terlampaui oleh pesaingnya.
Sadar akan keperluan biaya yang tidak sedikit dalam pengelolaan merek inilah, saya berminat untuk membantu UKM didaerah Surakarta dan sekitarnya dengan menyediakan jasa konsultasi dan jasa penghubung pada pihak perbankan. Untuk sementara ini keperluan biaya sampai dengan Rp. 500 Juta, yang bisa kami bantu.
Oleh karena itu, silahkan kirim surat perkenalan perusahaan Anda ke email : rahmat.widjaja@gmail.com
Semoga usaha Anda mendapatkan 'keuntungan berkelanjutan' dengan pengelolaan 'merek-dagang'nya.
Salam Bisnis.
Rahmat Widjaja - Solo
Perkembangan ekonomi disuatu daerah akan menambah jumlah usahawan dengan format UKM.
Persaingan usaha sejenis dengan sedirinya meningkat selaras dengan pertumbuhan jumlah usahawan di suatu wilayah tertentu.
Pada perusahaan besar, demi memenangkan persaingan sering menggunakan strategi "memperbesar" barrier-to-entry, dalam bentuk kompetensi-teknologi-SDM-terutama modal finansial.
UKM, tentu saja kurang memiliki 'modal finansial' yang berlimpah, oleh karena itu sangat mustahil menerapkan strategi bersaing dengan meningkatkan "barrier-to-entry" tersebut diatas. Oleh karena itu diperlukan 'upaya lain' guna memenangi persaingan.
Apapun upaya itu, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun dengan 'ketrampilan' penggunaan dana yang mencukupi, dana tersebut dapat berfungsi sebagai 'investasi' dengan 'pengembalian' yang 'nyata' dan 'mencukupi'.
Merek-dagang, sebuah komponen persaingan usaha yang relatif baru disadari oleh banyak perusahaan di dunia termasuk di Indonesia. Padahal, hanya melalui "merek-dagang" inilah, perusahaan dapat membedakan 'usaha'nya dari usaha-pesaingnya. Mengapa?
Kemajuan teknologi (informasi) yang menyebabkan demikian cepatnya pesaing membuat produk/jasa sejenis dari sebuah perusahaan, juga teknologi pemasarannya, bahkan metode pengelolaan asset (modal).
Posisi 'merek-dagang' dalam benak 'masyarakat', jika dikelola dengan baik akan sangat sulit untuk perusahaan pesaing untuk menyamai, paling cepat adalah memerlukan waktu pemosisian yang sama dengan waktu yang diperlukan perusahaan dalam membangun mereknya itu.
Masalahnya, perusahaan yang akan disaingi tersebut tentu tidak akan berhenti dalam mengelola mereknya tersebut, sehingga logis jika perusahaan terus menerus mengelola mereknya, sulit kepemimpinannya dipasar akan terlampaui oleh pesaingnya.
Sadar akan keperluan biaya yang tidak sedikit dalam pengelolaan merek inilah, saya berminat untuk membantu UKM didaerah Surakarta dan sekitarnya dengan menyediakan jasa konsultasi dan jasa penghubung pada pihak perbankan. Untuk sementara ini keperluan biaya sampai dengan Rp. 500 Juta, yang bisa kami bantu.
Oleh karena itu, silahkan kirim surat perkenalan perusahaan Anda ke email : rahmat.widjaja@gmail.com
Semoga usaha Anda mendapatkan 'keuntungan berkelanjutan' dengan pengelolaan 'merek-dagang'nya.
Salam Bisnis.
Rahmat Widjaja - Solo
Subscribe to:
Posts (Atom)