Mereka Merek

merek-merek di balik video-heboh [2]

+gimana Mas ?
-Singkatnya begini.......dengan mengamati 'respon' terhadap video-heboh itu, saya berkesimpulan bangsa ini tidak memiliki kesadaran-merek yang mencukupi. Dari pertama kali 'media' mengabarkan hal ini sampai Pidato Presidennya beberapa waktu lalu, demikianlah kesimpulan saya.

+Lho koq bisa begitu ?
-Coba aja liat....cara media mengangkat hal imi, itu hanya menunjukkan bahwa yang bernama INDONESIA itu bukan merek, yang bernama BANGSA INDONESIA itu juga bukan merek. Terus liat respon polisi-polisinya, yang mestinya mengayomi dan melindungi masyarakat, tak paham merek-nya itu hingga berlama-lama menentukan tindakan kepada 'pelaku' yang jelas-jelas membuat 'keresahan' masyarakat. Pendidik-pendidik...sami mawon, sudah jelas-jelas video-heboh yang menjalar secara luas itu adalah 'materi ajar' yang kurang pantas, tidak ada sikap yang tegas...baru semingguan setelah kejadian ada rasia hp di suatu sekolah di Jakarta...ini kan menunjukkan bahwa PENDIDIKAN NASIONAL tidak dipandang sebagai sebuah merek.


+Wah...wah....lalu?
- AGAMAWAN begitu juga....agamanya masing-masing dianggapnya juga bukan merek, siapa tahu pelaku-pelaku dalam video itu ummat agamanya, kenapa harus 'pake lama' responnya...itu saja hanya beberapa kelompok yang menyatakan sikap, dan mewakili daerah atau kelompoknya, bukan mewakili agamanya....ini kan memberi citra bahwa agama tertentu bisa 'menerima' perbuatan yang dipertontonkan dalam video-heboh itu.....

+Ada lagi yang lebih gila?
-Ada dong.....dan ini sangat jelas akibat 'kurang ngeh-nya' mereka yang katanya jadi 'agen merek'. Mereka tak sadar ada KRISIS MEREK (lagi-lagi ini istilah saya....bukan dari buku manapun. Kebanyakan buku hanya mengajarkan membangun saja, ga ngopeni) sedang terjadi pada bidang-kompetensi mereka, yaitu merek.

+Contohnya Mas...
- oke, ini bukan menuduh lho......pelaku lelaki dalam video itu banyak kalangan sudah bilang kalau mirip anak band salah satu band yang sedang populer di Indonesia.......tentu ini sudah mengganggu 'citra merek' dari 'band' yang dimaksud, sejak peristiwa ini ditayangkan oleh 'media' yang maaf juga tidak punya 'kesadaran ber-merek'(bertanggung jawab), sehingga mencantumkan atau memberi istilah bahwa pelaku dalam video tersebut 'mirip si anu, mirip si inu'.......lah, coba, apa adik pernah denger statement-resmi dari manajemen group band tersebut? Dan bagaimanakah sikapnya? Apa mereka merasa dicemarkan? Apa mereka memberi jaminan bahwa video itu palsu, dan tokoh yang ada dalam video itu bukan anak-bandnya?......jangan-jangan manajer yang ada 'manajer-manajeran', atau kalau toh ada manajemen artis itu, mereka masih 'tolol' untuk ngurusi 'merek'-band.

+hehehe.....'tolol' ya Mas
-hahaha...sorry, aku suka 'emosi' kalau liat hal-hal yang prinsip yang harus ada dalam batok-kepala orang, tapi tidak ada, karena malasnya mengisi hal-hal prinsip itu......sebab kalau dikepalanya saja tidak ada 'prinsip' itu, mana mungkin tindakannya akan sesuai dengan kaidah-'prinsip' itu......hehehe, kalau istilahku 'tolol' apa berlebihan?

+Hanya merek-band saja Mas
- Oooo...tidak dong, banyak kan...para pelaku itu 'dipercaya' oleh AGENnya 'brand-brand' yang bereputasi international [ o ya, saya ini geli sama bangsa ini, terutama yang muncul di tipi-tipi & koran2 itu, kasih statement.....demikian 'bangga'nya kalo peritiwa video-heboh itu sampai keluar negri...ekspor kita, hahaha......padahal berita diluar itu siapa tau ulah dari pesaing brand yang diwakili oleh 'artis yang mirip pelaku video heboh']......................karena diluar-negri sana, dimana 'kesadran merek'nya sudah tinggi,  persaingannya sudah pada level persaingan 'merek', maka jika 'merek' lawan punya 'masalah'.....HAJAR bleh.
Nah, kembali pada agen-brand yang diwakili oleh artis yang mirip pelaku, menurut saya lambat bereaksi, padahal brand-nya sudah dirugikan begitu ketika video itu heboh, tidak harus berdasarkan hukum formal dibuktikan bahwa artis yang mewakili brandnya itu benar-benar pelaku......ini hanya menunjukkan bahwa agen-agen merek itu kurang sensitif terhadap 'krisis merek'......inilah repotnya kalau agen-agen merek itu punya 'mindset' sekedar 'tukang branding' bukan 'brand engineering'.....sebagai 'tukang ngecap', cara mudahnya adalah figur-populer untuk jadi ambassador atau model-iklannya, tanpa perlu menyesuaikan karakter-brand ini dengan karakter si figur-populer.....sebetulnya bisa saja dengan figur-populer asalkan kontraknya musti detail, jika ternyata dikemudian hari di masyarakat 'mengesankan' sang figur-populer itu bertentangan dengan karakter merek....tidak saja sang figur terputus kontrak, tapi juga menanggung kerugian, minimal mengadakan pers-conference secara nasional

+Kalau ternyata kesimpulannya bangsa ini tidak mempunyai 'kesadaran ber-merek', apa dong hasil dari segala seminar yang mahal-mahal itu tentang brand-branding-personal branding dan lain-lain?
-ya logikanya gini saja....proses pengajaran, apapun itu, hasilnya bisa dilihat dari 'tambahan' pengetahuan tau ketrampilan dari peserta-ajar, apakah setelah pengajaran itu lebih kompeten......nah kalau hasilnya buruk, bisa jadi bahan ajarnya tidak tepat, atau peserta jarnya tolol.......keyakinan saya tidak ada orang tolol, kalau tidakan tolol ada, jadi,,,,kita patut skeptis terhadap materi ajar segala macem soal branding itu.....gampang koq menilainya, apakah materi ajar itu tepat atau tidak, yaitu apakah pemberi ajar itu telah pernah 'merekayasa merek' dan bagaimana hasilnya......kalu tidak punya pengalaman itu berarti cuma pembaca buku yang menceritakan kesuksesan rekayasa brand ditempat antah berantah sanan, yang pasti tidak bisa cocok di negeri ini......karena apa? karena yang diurusi itu 'brand' kalau bangunan fisik biasa mungkin bisa sama, begitu.....

+Oke Mas saya kira kali ini cukup ya.....tapi saya masih penasaran menggali bagaimana mas menjalankan 'rekayasa merek', begitu ya...?
-Ya,ya....boleh saja, silahkan.  Semoga bermanfaat.

=========================================================
merek-merek di balik video-heboh [1]

+Met Sore, Mas....ga tennis hari ini 19/06/2010
- Hahaha...hari ini enggak, persiapan besok 'tanding-persahabatan' dengan ORARI/RAPI Boyolali

+oke, boleh dong ngobrol meREKA MEREK, meneruskan yang kemarin?
-Boleh....Boleh, silahkan Dik....sambil nonton final AegonInternational di Eastbourne ya....nih Victori Azarenka kliatannya dlm trouble melawan Ekatarina Makarova dari Rusia, padahal cewek ini masuk turnamen disitu lewat babak kualifikasi.....alias bukan unggulan......cewek ini masuk final setelah mengalahkan Stosur dari Australia yang finalis Roland Garros.....hebat ya?

+hehehe...iya, tapi kita mo ngobrol soal meREKA MEREK, bukan Tennis
- hahaha...iyyyyaaaaaa, sorry

+ga papa Mas......cuma saya ga akan meneruskan soal kegiatan Mas meREKA MEREK sejak tahun 1989
-Lho lalu....?

+Saya mo nanya Mas, soal apa-apa yang terjadi di Republik kita yang lucu ini.......namun dari sudut pandang Mas, yaitu soal 'branding'.......misalnya soal Video 'mirip artis'
-hemmm, Branding....? Perasaan yang saya jalani selama ini bukan sekedar 'tukang branding' lho....tapi Brand Engineering, meREKA(yasa) MEREK

+Wah...ga mudeng saya Mas....dari buku dan jurnal manajemen sih belum nemu istilah itu (Brand Engineering), yang ada juga Brand Building....apa bukan ini yang Mas maksud.
-hahaha....tepat, bukan itu....itu kan istilah 'sekolah'an.....ngarang aja penulisnya, berdasarkan kisah sukses perusahaan-perusahaan diSONO......bukan dari pengalaman lapangan. Membuat sebuah 'merek' itu 'jadi' dan berkarakter tidak bisa dengan semangat 'to build'......'to build' itu bersifat 'statis', begitu di 'build' bangunan itu jadi, selesai....begitu kalau peristiwa 'fisik', soal 'merek lain......'merek' itu hidup dalam 'persepsi' komunikan, persepsi orang perorang berdasar 'pengalaman' dan 'referensi'nya........padahal pengalaman dan referensi itu sifatnya 'dinamis' bahkan cenderung 'chaos'.....jadi jangan berpikir kalau semua material dan metode sudah disiapkan, bangunan 'merek' itu pasti jadi......dengan kata lain, 'merek' dan 'bangunan fisik' itu punya PARADIGMA yang berbeda sama sekali.

+o  gitu?
-iya.....punten break sebentar, tuh cewek rusia Ekatarina Makarova akhirnya bisa mengalahkan Azarenka, 7-5, 6-4....hebat ya. Ini menunjukkan dunia ini berjalan ga linier........nonton dulu ya, upacara pemberian pialanya....penting nih, belajar gimana organiser event olahraga kelas dunia....

[ habis nonton, diteruskan nonton tanding final lakinya....llodra lawan garciaLopez, terhenti krn hujan, maka perbincangan bisa dilanjutkan]

+Oke mas.....kita pakai terminologi 'brand engineering' saja, atau 'meREKA MEREK', itu ya?
-Baik....sepakat.

+Nah kembali ke topik........soal Video 'mirip artis' itu, gimana dari kacamata Insinyur Merek, hahahaha....
- hahhhhhh.....? (bersambung ke merek-merek di balik video-heboh [2]')





meREKA MEREK, sejak 1989

+ Mas, mo nanya...punya pengalaman 'mereka merek'?
- O...ada dik, ini sudah saya mulai sejak tahun 1989. Awalnya saya ga tau kalo apa yang kulakukan itu 'mereka(yasa) merek'.

+Lho koq bisa?
- Lha wong waktu itu saya kerja di radio siaran swasta di Bandung, Radio Ardan namanya. Saya kerja disitu bukan karena sesuai bidang studi saya sewaktu kuliah, berkat hobby saja. Saya kuliah di ITB, Teknik Sipil. Siaran menjadi hobby saya setelah menari klasik Jawa. Wah koq ngelantur ya......

+Hehehe...iyya, koq jadi seperti curhat.....soal mereka-merek Mas
_ oke, karena saya serius dalam menjalani hobby ini, prestasi saya di radio itu terus meningkat...dari seorang penyiar biasa...menjadi koordinator kreatif...menjadi program director...menjadi marketing...menjadi general-menejer....

+Lalu?
- Lama-lama tanggung jawab saya sudah melebar, dari sekedar teknik siaran-programming...menjadi tanggung jawab menejerial....padahal gak pernah belajar manajemen.....termasuk juga masalah menejemen pemasaran......ya belajar-belajar sendirilah.....untungnya di ITB saya terlatih untuk menyelesaikan masalah (problem solving), jadi termasuk dalam hal pemasaran itu, justru saya penasaran harus bisa, walupun harus belajar mandiri......

+ Oke Mas, lalu hubungannya masalah Pemasaran dengan Merek itu
- Nah itu, saya juga ga 'mudeng' waktu itu.....referensi soal pemasaran saja masih terbatas, belum kenal tuh dengan yang namanya Kotler.....jadi waktu itu yang ada dalam benak saya, pokoknya harus bisa memenangi persaingan, sehingga perusahaan banyak untung supaya bisa mbayar saya cukup....itu saja.

+ Emangnya persaingan usaha radio Swasta di Bandung waktu itu ketat?
- ooooo.....super ketat, katanya sih paling ketat di seluruh Indonesia, mengingat jumlah penduduk dan jumlah radio-nya....apalagi sebelum tahun 1989 itu....radio saya masih di AM, sedang saingan terdekat (format siarannya sama : untuk anak muda) sudah di FM. Baru di tahun 1989 itu, radio saya dapat ijin menempati gelombang FM.......saya pikir inilah kesempatan, mengenalkan kepada pendengar di Bandung, bahwa radio saya tampil beda di gelombang FM.

+Itulah saatnya Mas mulai 'mereka merek'
- Sekali lagi....saya ga mudeng...kalau yang saya lakukan, yang saya persiapkan untuk radio ini sesungguhnya bagian dari 'brand management'

+O gitu? lalu apa yang Mas lakukan saat itu........?
- Gini..........., tapi ngomong-ngomong jam berapa sekarang? wah....saya harus tennis nih, besok lagi ya dilanjutkan obrolan ini? oke?

+Iyyyaaa...deh Mas. Selamat berolah raga.
- Terima kasih.................