WIRAUSAHA
Atasi Kejenuhan Pasar dengan Batik Lukis
Laporan wartawan KOMPAS Eny Prihtiyani
Selasa, 15 Juni 2010 | 19:05 WIB
BANTUL, KOMPAS.com - Untuk mengatasi kejenuhan pasar batik, para perajin di Dusun Gunting, Gilangharjo, Pandak Bantul melakukan terobosan dengan membuat batik lukis. Berbeda dengan batik kain yang sifatnya fungsional, batik lukis dimanfaatkan untuk mempercantik interior ruangan.
Sugito (42), salah seorang perajin batik lukis mengatakan mulai aktif memproduksi batik lukis sejak 10 tahun terakhir. Awalnya ia lebih banyak membuat batik kain. Namun karena persaingan di pasar semakin ketat dan situasinya mulai jenuh, ia pun beralih ke batik lukis.
Proses pembuatan batik lukis sedikit berbeda dengan batik kain. Setelah pencelupan warna, batik lukis bisa ditambahkan goresan warna menarik seperti warna emas atau warna mencolok lainnya. "Bagi pembatik ini menjadi wahana ekspresi diri, karena goresan-goresan warna tambahan itu sepenuhnya tergantung selera kita," katanya.
Ragam corak batik lukis juga lebih variatif, mulai dari corak-corak pakem keraton sampai ke corak pemandangan, hewan, tumbuhan-tumbuhan atau goresan-goresan yang sifatnya abstrak. Harga jualnya variatif tergantung ukuran, mulai dari Rp 40.000 sampai Rp 200.000.
KERAJINAN
Peminat Batik Tulis Masih Terbatas
Senin, 14 Juni 2010 | 15:23 WIB
Cirebon, Kompas - Peminat batik tulis masih terbatas di kalangan tertentu, padahal batik tulislah yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya asli Indonesia. Sebagian konsumen memilih batik cap atau cetak karena harganya lebih terjangkau.
Tuti Nurhayati, pengelola Batik Ninik Ikhsan, di sentra batik Trusmi Kulon, Plered, Kabupaten Cirebon, Minggu (13/6), mengatakan, meskipun batik kini populer dan bisa dikenakan siapa pun, hanya sedikit yang membeli batik tulis.
Ia mencontohkan, dari sekitar 100 orang yang datang ke ruang pamernya pada musim liburan ini, sebagian besar memilih batik dengan harga lebih murah, seperti batik cap dan cetak. "Harganya memang relatif murah, mulai dari Rp 30.000 per lembar pun ada, tetapi bukan batik tulis. Asal motif dan warnanya cocok, mereka akan beli meski itu batik cetak atau cap," katanya.
Tuti menyebutkan, harga batik tulis bisa mencapai Rp 90.000 hingga jutaan rupiah per lembar. Dengan harga yang lebih tinggi dari batik cap, batik tulis hanya diminati kalangan tertentu.
Menurut Fitri, perajin batik lain di Trusmi Kulon, batik tulis mahal karena prosesnya tergolong rumit dan harus dilakukan manual. Pengerjaan selembar batik tulis butuh waktu setidaknya sepekan. Motif mega mendung yang mempunyai hingga tujuh gradasi warna, misalnya, tak bisa dikerjakan dalam waktu singkat karena harus dicelup berkali- kali.
Meski demikian, beberapa perajin batik bertahan menawarkan batik tulis. Salah seorang sesepuh pembatik di Cirebon, Katura, juga setia memproduksi batik tulis. Katura bahkan memasok batik ke pasar mancanegara karena karyanya diminati masyarakat Jepang. Sebanyak 90 persen batik yang ia produksi dipasarkan di luar negeri.
Sirli, pemilik Griya Batik Saidah, juga tetap memproduksi batik tulis meskipun peminatnya hanya kalangan tertentu. Menurut Sirli, orang-orang yang mengerti batik tetap mencari batik tulis meskipun harganya mahal. Sebab, bagi mereka, batik adalah seni. Namun, ia terus berharap batik tulis bisa lebih populer daripada batik cetak atau cap. Pasalnya, yang dimaksud dengan kain batik sebenarnya adalah batik tulis, bukan kain bermotif batik. (NIT)
USAHA RAKYAT
Batik Susukan Mencoba Bangkit
Kamis, 3 Juni 2010 | 13:32 WIB
Sleman, Kompas - Setelah mati suri selama lima tahun, kerajinan batik di Dusun Susukan, Margokaton, Seyegan, Sleman, mencoba bangkit dalam setahun terakhir. Mulai masuknya pesanan batik membuat para perajin cukup optimistis batik mereka bisa lebih berkembang lagi.
"Semoga ini awal yang baik. Jika pesanan terus masuk dan tambah banyak, mungkin kami akan membuat toko bersama di dusun," ujar Mahrus, salah satu pembatik di Susukan, Rabu (2/6).
Selain membatik, dalam proses panjang membuat batik, Mahrus bertugas mencelupkan dan mewarnai batik. Dengan 12 perajin, mereka menghasilkan 50 potong kain batik yang terdiri atas batik tulis, cap, dan kombinasi per minggu. Harga per potong kain dengan panjang 2-2,5 meter bervariasi, bergantung kualitas bahan, pewarnaan, dan tingkat kesulitan pembuatannya.
Harga per potong yang dijual para perajin yang tergabung dalam kelompok Batik Sri Sadono ini, termurah Rp 65.000 dan termahal Rp 1,5 juta. Yang paling murah adalah batik cap dengan bahan katun, sedangkan yang termahal batik tulis dengan bahan sutra.
Warna berani
Menyinggung kekhasan batik Susukan, Mahrus menyebut penggunaan warnanya yang lebih berani. Tak hanya satu warna, tapi minimal dua warna dalam satu potong kain. Warna juga dibuat menyala, cerah, sehingga menimbulkan kesan batik yang tidak kaku.
Nawawi, Ketua Kelompok Batik Sri Sadono, mengatakan, pihaknya terus mencoba melobi toko-toko agar bisa disetori batik produk mereka. "Kami yakin dengan kualitas batik produksi kami," ucapnya.
Di Susukan, batik merupakan kerajinan yang ditekuni leluhur kampung sejak puluhan tahun silam, bahkan sebelum era kemerdekaan. Seingat Mahrus, dari cerita sesepuh kampung, batik masuk ke Susukan karena ada kerabat keraton mengajari warga membatik.
Mencapai masa keemasan hingga tahun 1980-an, seperti batik-batik di Yogyakarta, batik Susukan lantas meredup. Krisis moneter tahun 1997 semakin membuat limbung para perajin. Setelah mencoba bertahan, tahun 2005 perajin menutup usaha karena terus merugi.
Setahun terakhir, ada gerakan menghidupkan batik Susukan seiring batik mulai menjadi tren. Perajin juga mendapat bantuan peralatan usaha dan instalasi pengolah limbah dari Pemkab Sleman lima bulan lalu. Kini setidaknya ada 40 warga yang bisa mendapat tambahan penghasilan dari batik Susukan. (PRA)
Batik Sri Sadana dari Margokaton
Rabu, 2 Juni 2010 | 22:18 WIB
SLEMAN, KOMPAS.com--Sejumlah perajin batik yang tergabung dalam Kelompok Keluarga Batik Sri Sadana di dusun Susukan, desa Margokaton, Seyegan berupaya keras mampu menembus pasar internasional.
"Kami berupaya keras dapat menembus pasar internasional, dari sisi kualitas kami yakin mampu bersaing hanya saja kendala kami adalah keterbatasan informasi terkait peluang ekspor," kata pengelola Kelompok Batik Sri Sadana Didik Harjunadi, Rabu.
Menurut dia, batik yang diproduksi kelompok yang memiliki 40 anggota itu berupa kain cap atau biasa disebut batik cap. "Meskipun disebut batik cap namun dalam proses produksi kami memadukan antara batik tulis dan batik cap ini," katanya.
Ia mengatakan, dengan 17 tenaga perajin, kelompok usaha batik ini mampu memproduksi kurang lebih 50 lembar hingga 100 lembar kain batik cap setiap bulannya.
"Harganya bervariasi tergantung bahan dan tingkat kesulitan motif dan pewarnaan, batik berbahan katun seharga Rp65 ribu, batik dari sutera seharga Rp1,5 juta," katanya.
Didik mengatakan, rata-rata batik yang dipasarkan harganya berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. "Motif Garuda Purba menjadi andalan kami untuk bersaing di pasaran batik," katanya.
Ia mengatakan, omset per bulan Kelompok Batik Sri Sadana mencapai Rp8 juta hingga Rp15 juta. "Angka omzet memang terbilang kecil karena saat ini batik Sri Sadana belum diekspor. Pemasaran masih sebatas wilayah Sleman dan sekitarnya dan hanya sebagian kecil saja yang dilempar ke pasaran luar daerah, seperti Kalimantan, Medan, dan Papua. Kami terkendala kurangnya informasi untuk ekspor karena belum ada jalur untuk mengirim produk keluar negeri," katanya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman, Pranowo, hasil produk batik di Sleman sudah cukup baik karena berhasil bangkit dari kelesuan usaha.
"Program pemerintah yang mewajibkan PNS mengenakan seragam batik terbukti mampu meningkatkan produksi batik Sleman. Peningkatan produk mencapai 30 persen. Kami akan membina potensi lokal batik untuk meningkatkan pemasaran produk," katanya.
Batik Van Gogh 'Made In' Bantul Tembus Italia
SELASA, 15 JUNI 2010 | 14:51 WIB
TEMPO Interaktif, Bantul - Batik dengan corak kontemporer beraliran ekspresionis karya warga Bantul, sukses menembus pasar Italia dan Amerika Serikat. Bukan cuma dua negara itu, tapi Malaysia, Singapura, dan Inggris pun menjadi tujuan ekspor batik tersebut.
“Batik lukis bergaya Van Gogh, Pablo Picasso, dan Leonardo Da Vinci dibuat dengan bahan batik. Itu yang sangat laku di Eropa dan Amerika,” kata Sugito, perajin batik lukis, di Gilangharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (15/6).
Usaha yang ia tekuni sejak 1988 itu memproduksi sekitar 1.500 lembar batik lukis ekspresionis yang dijual ke pasar dalam negeri 50 persen, dan sisanya diekspor. Harganya berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 1,5 juta per lembar, tergantung bahan dan tingkat kesulitan lukisan batiknya.
Bahan yang digunakan sebagai dasar batik ekspresionis itu berasal dari katun seratus persen. Pola desain bahan batik ini, sesungguhnya, tidak berbeda dengan batik tradisional. Yaitu dengan menggambar memakai pensil lalu diberi lilin (malam) dan proses pewarnaan.
Semakin banyak warna, semakin rumit pula proses pembatikannya. Usai dibatik, baru proses pelukisan dengan bahan-bahan pewarna, baik tradisional maupun kimia. Untuk penonjolan lukisan digunakan lem binder sebagai perekat brom yang berwarna emas dan perak.
Mulanya, modal awal yang ia pakai untuk membuat batik itu hanya Rp 20 ribu saat itu. Namun, saat ini omzet per bulannya mencapai Rp 30 juta. Tak jarang para artis dan desainer yang memesan karya unik milik Sugito itu.
Beberapa perancang busana dan artis yang tertarik dengan batik buatannya antara lain Ivan Gunawan, Farhan, Maudy Koesnaedi, dan Ida Royani. “Kami memang punya dua jenis batik, batik untuk hiasan interior dan batik busana,” kata Sugito.
Para artis tertarik karyanya disebabkan desain yang ia buat tidak sama dengan batik lain. Sehingga satu karya hanya disedikan untuk satu produk. “Setiap desain, ya, hanya satu. Sehingga tak ada yang menyamai saat dipakai,” ujar dia.
Menurut alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) lulusan 1986 itu, latar belakang ide pembuatan batik ekspresionis kontemporer muncul karena ia bosan dengan desain tradisional. Maka, jadilah ide untuk membuat batik yang berbeda.
Menurut Juminah, istri Sugito, industri rumah tangga yang ia rintis merupakan satu-satunya pemasok batik ekspresionis kontemporer ke pabrik batik di Surakarta, semisal Batik Keris. “Sebelum Bom Bali, karyawan kami ada 80 orang. Sekarang tinggal 25 orang saja,” tuturnya.
MUH SYAIFULLAH
Batik Gonggong Dilelang Rp3,5 Juta
Tanjungpinang (ANTARA News) - Sehelai baju batik gonggong warna merah yang dipamerkan pada hari pertama Pekan Aksi Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, dilelang dengan harga Rp3,5 juta.
Batik gonggong itu diberikan kepada Ketua DPRD Tanjungpinang, Suparno, yang menawar dengan harga paling tinggi dibandingkan peserta lelang lainnya.
"Sedangkan batik gonggong berwarna ungu diberikan kepada mantan Ketua DPRD Tanjungpinang, Bobby Jayanto, yang saat ini menjadi Ketua Kadin Tanjungpinang, dengan harga Rp3 juta," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tanjungpinang, Efiyar M Amin, yang juga panitia Pekan Aksi Ekonomi Kreatif, Selasa.
Efiyar adalah penggagas pembuatan batik gonggong di Tanjungpinang. Gagasan itu mulai berkembang pada Maret 2010, kemudian dipamerkan di Lapangan Pamedan Tanjungpinang dalam acara Pekan Aksi Ekonomi Kreatif yang dilaksanakan 14-19 Juni 2010.
"Saya menyukai gonggong, makanan laut khas Tanjungpinang. Kemudian saya memperhatikan bentuknya, ternyata unik dan indah," ujarnya.
Pelelangan tersebut dilaksanakan untuk kegiatan amal. Hasil pelelangan batik gonggong tersebut disumbangkan kepada yayasan anak yatim piatu.
"Kami menyerahkan semua uang yang terkumpul pada saat pelelangan kepada yayasan yatim piatu," ujarnya.
Batik gonggong belum dapat diproduksi di Tanjungpinang, karena membutuhkan biaya yang besar. Untuk sementara batik gonggong tersebut diproduksi oleh salah satu perusahaan batik di Pekalongan dan Cirebon.
"Untuk masa datang, kami berupaya batik gongong diproduksi di Tanjungpinang dengan biaya lebih rendah sehingga mampu dijangkau masyarakat," katanya.
Batik gonggong baru dijual dipasarkan di satu toko yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat, Tanjungpinang. Batik gonggong dijual dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat luas.
Baru-baru ini salah seorang pengusaha di Singapura memesan batik gonggong dalam jumlah banyak. Batik itu akan dipasarkan di Singapura.
"Kami berharap batik gonggong dapat berkembang pesat," katanya.